benteng begitu tinggi, sulit untuk ku gapai
memang benteng adalah sebuah halangan dengan adanya benteng yang tinggi itu berarti halangannya memang sangat banyak dan berat, dan mengapa sulit digapai karena ini menyangkut perbedaan iman, tidak mudah bila kita bicara tentang perbedaan iman yang terjadi pada dua insan manusia apakah dapat dipersatukan atau tidak itu tergantung dari prinsip masing-masing orang tersebut.
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Tuhan memang satu tapi kita yang tidak sama, tidak sama dalam mempercayai suatu agama, tidak sama dalam cara ibadah, tapi sebenarnya tuhan kita itu hanya satu.
perasaan memang tidak bisa dipersalahkan, contohnya perasaan saya saat ini kepada seseorang yang berbeda agama, sebenarnya agama bukanlah suatu permasalahan tapi karena aku dilahirkan di keluarga yang sangat kental dengan agama, maka perbedaan agama memang sangat dipermasalahkan apalagi jika saya mempunyai sebuah hubungan dengan orang lain yang berbeda agama, jangankan untuk masalah seorang pacar, punya temen yang beda agama juga orang tuaku selalu khawatir anaknya jadi lupa solat, puasa, ngaji karena mereka berfikir saya akan terbawa dengan lingkungan yang tidak mengingatkan saya untuk ibadah, tapi dalam diri saya mungkin agama memang yang utama, karena dari kecil sudah diajarkan tentang agama. Jadi mempunyai teman beda agama atau punya teman pemalas pun saya tidak masalah karena kepercayaan agama itu sudah tumbuh di dalam hati saya sendiri, mengapa masih ada orang yang malas beribadah? saya yakin mereka punya alasan sendiri, tapi sebagai teman tidak ada salahnya untuk saling mengingatkan.
kembali ke permasalahan, bagaimana dengan perasaan saya kepada orang ini? orang yang saya suka namun berbeda agama, apa saya tega mengubur dalam-dalam perasaan saya karena agama? mungkin ini yang terbaik, saya percaya Allah punya rencana lain dan Allah pasti sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk saya dibandingkan dengan orang ini, saya masih mengharapkan seseorang yang seagama yang bisa menjadi imam saya.
Orang ini : (Fisip) (HI) (2011) (Logistik)
Dea Prilia, Yossy Rachmatillah, Ahmad Surya Fahruri, Azwimar Putranusa at Pasar Malam Kampus Tiga “Imaginarium”.
hari ini hari yang sangat nikmat sekali karena masih diijinkan bangun subuh untuk menghirup nikmatnya udara segar pagi hari sekitar pukul empat, kemudian lanjut sahur lalu menunggu adzan kemudian solat setelah itu belajar hingga pukul menunjukkan delapan pas. secepatnya saya siap-siap untuk ke kampus dan menjalankan uas PKP dan alhamdulillah lancar kemudian menunggu uas bahasa indonesia di himpunan kemudian lanjut perpustakaan dan alhamdulillah juga lancar semoga kedua uas tadi mendapat nilai A agar bisa membantu nilai-nilai uas yang lainnya yang tidak yakin. setelah uas selesai aku bertemu dengan teman dekatku yaitu puspita dan yossy kita udah janjian untuk bertemu dan foto untuk 3x4 yang akan digunakan daftar LKM, beasiswa dan juga untuk keperluan-keperluan lainnya. setelah selesai foto kita cetak di gandok bawah dan karena sudah mau maghrib akhirnya kita memutuskan untuk buka puasa di suatu tempat makan di sebelah galeri. disana selain makan kita bercerita-cerita, menyusun rencana-rencana maen, dan pastinya ngerumpi. setelah itu kita kembali ke kampus dan sejenak nangkring di WT dan keadaannya sepi dan setengah gelap, semakin malam semakin dingin dan kita memutuskan untuk pulang, aku dan puspita mengantarkan yossy ke parkiran hukum dan tinggal aku dan puspit untuk pulang dan seperti biasa jalan kaki berdua dan tadi jalan berdua sambil pake headset setengah setengah mendengarkan lagu naif dijalanan pun kita nyanyi-nyanyi dan nari-nari kayak orang gila. setelah sampai kosan langsung lanjut buat CV dan Motivation Letter, sekian.